Tadi malam saya menonton acara tivi di knowledge channel. Alkisah ada seorang ibu muda (warga Inggris keturunan India) yang sukses dengan bisnisnya dan sekarang menjadi milyader. Hidup yang serba berkecukupan menjadikan dia ingin belajar model kehidupan yang lain. kemudian dia memutuskan untuk mengembara ke suatu daerah yang jauh dari tempat tinggalnya, menyamar menjadi orang bersahaja. Dengan berbekal uang seadanya, dia mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar. Mendatangi beberapa organisasi sosial dan mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Dalam petualangan itu, dia tersentuh olah banyak hal: betapa dia menjumpai orang-orang sederhana tetapi mempunyai ketulus-ihlasan tinggi membantu sesama, membantu remaja-remaja putus sekolah, membantu orang-orang jompo...
Semua yang dia alami menggiringnya ke satu titik: akhirnya mengaku bahwa dia hanya berpura-pura menjadi relawan, kemudian menyampaikan bahwa dia akan menyumbang mereka!
Dengan berlinang air mata dia serahkan ratusan ribu ponsterling untuk masing-masing lembaga, yang diterima dengan terkejut dan penuh suka cita!
Sungguh ngiri saya pada kebahagiaan memberi yang terpancar dari wajah perempuan muda itu..
Apa ya yang saya bisa beri sementara saya bukan milyader?
Kemudian saya tersenyum,..ah saya punya pare!
Lho?

Tak mau kalah dengan si milyader tadi, saya juga punya kisah memberi. Kejadiannya hari Minggu yang lalu, saya bersama beberapa ibu tetangga sedang merubung abang tukang sayur ketika kemudian ada percakapan:
Ibu Juw: "Bang, bawa pare?"
Abang sayur: "Waduh, tadi ada dua bungkus, tapi udah laku..."
Ibu Juw: "Wah...gimana nih...anak saya yang sedang hamil kok ngidam pingin lalap pare rebus!"
Beruntung saya mendengar percakapan itu, beruntung saya langsung bereaksi cepat.
Saya: "Oh...ibu perlu pare? saya ada bu.....sebentar saya ambilkan ya bu..."
Ibu Juw: " Ah, jangan ngerepotin...saya ke pasar saja nanti..."
Saya: "Sama sekali tidak bu, ini pare panenan sendiri kok, metik sendiri di halaman..."
Ibu JUw: "Oya, wah tak nyangka jeng punya tanaman pare!"
Ibu Juw dengan mata berbinar dan syukur membawa pulang delapan buah pare...bakal lalap anak perempuannya yang ngidam...
Sore harinya, Ibu Juw khusus menjumpai saya untuk mengucapkan terimakasih "Anak saya seneng sekali, parenya seger dan manis karena asli baru dipetik....terimakasih ya jeng...."
Saya: "Iya...bu...lain kali kalau perlu lagi, masih banyak kok di pohon, malah ibu bisa petik sendiri juga....:
(Dalam hati saya, kebeneran banget ada yang begitu memerlukan pare saya ini...karena sejujurnya...saya juga sudah mulai kewalahan menghabiskan pare yang berproduksi terus setiap hari...pertanyaannya: apakah kalau saya belum bosen dengan pare itu kemudian kandungan ikhlas saya dalam memberi akan turun?.......bisa saja terjadi wahai ernut manusia biasa!....hiks...)
lanjut baca?
Selasa, November 03, 2009
memberi....
Jumat, Oktober 30, 2009
Gethuk dan wiken!
Finally, Friday's coming again!!
Menurut saya, kenikmatan dari seorang ibu bekerja seperti saya ini adalah begitu menanti datangnya wiken :)
Dan bagi saya, wiken berarti gethuk!
Arti yang aneh?
Ceritanya, kalau suatu pagi, sekitar jam tujuh kok ada gethuk di meja camilan, artinya nyonya rumah, saya, sedang bungah dan sedang menikmati me time! Barangkali tidak seperti di rumah-rumah lain, kehadiran gethuk di rumah saya memerlukan kondisi tertentu supaya terjadi, diantaranya: berarti saya sedang longgar waktu untuk ke pasar, tidak dikejar jam masuk kantor, tidak terburu-buru, siap menikmati gigitan demi gigitan gethuk, di tepi kolam sambil memandangi ikan berenang berkejaran, sedang santai......sedang wiken!! oh...
lanjut baca?
Selasa, Oktober 20, 2009
tak pernah mampir....
Hanya beberapa hari tak menengok kebon, tahu-tahu mendapatkan buah pare montok ini sudah menguning terlalu matang, jatuh dari tangkainya, gugur....
Peristiwa menjadi tua tentu alamiah adanya...
Hanya yang menyesakkan dada, saya tidak sempat memperhatikan pertumbuhannya, tidak kober untuk membelai mengamatinya, sampai akhirnya dia menguning, membusuk....rindu belaian saya kah dia selama ini?
Saya jadi merasa bersalah.....
Rasa bersalah yang sama, juga saya rasakan saat mengingat bapak ibu kos saya? Lho, pare kok berhubungan dengan masa-masa kos?
Ceritanya, enam belas tahun yang lalu, saya pernah menjadi anak kos di ibukota ini...pemilik kos adalah sepasang Bapak Ibu sepuh yang mengisi hari pensiunnya dengan menyewakan kamar-kamar rumahnya. Hubungan baik terjalin antara saya dan sepasang kasepuhan itu. Hanya enam bulan saya menjadi penghuni kos, kemudian nasib membawa saya berpindah kemana-mana....
Pernah sesekali saya melewati rumah kos itu, tetapi saya tidak pernah mampir, karena selalu merasa terburu-buru dan khawatir mengganggu..
Sampai suatu siang di minggu yang lalu, saat suami dengan rombongan teman kantor melintas di daerah kos-kosan itu, dan melihat pemandangan penting, kemudian suami sms "sepertinya Bapak kos meninggal, terlihat banyak karangan bunga yang sudah layu di depan rumahnya!"....tersentak saya mendengarnya... oh, andai pas hari H saya mendengar berita itu...
Keesokan harinya, saya berusaha untuk ke sana. Saya dapati pintu pagar tertutup, terkunci. Tetangga depan rumah menerangkan, "Kosong, bu!, nanti sore baru anaknya datang ke situ!"..
"Oh, anak yang di Bintaro ya? Bagaimana dengan ibu kos? beliau sehat-sehat dan sekarang ikut anak di Bintaro, ya?" tebak saya.
"Lho, ibu kos malah sudah meninggal dua tahun yang lalu..."
Aaah...seharusnya saya memang dulu perlu sesekali mampir, bagaimanapun, meskipun hanya bapak ibu kos, meskipun hanya enam bulan, tetap menjadi bagian sejarah perjalanan hidup saya...
lanjut baca?
Rabu, Oktober 14, 2009
sebelah sayap...
(Pagi ini, saya petik segenggam melati dari kebon susuh, saya petik juga dua lembar daunnya, saya tata sedemikian rupa, kemudian saya umpamakan kedua daun itu adalah sepasang sayap burung terkepak-kepak.....mirip nggak sih?)...
Kaluk kita ikuti infotainment, betapa ada seorang selebriti menikah beberapa kali...mungkin kejadiannya dengan si A dia tidak cucok ininya, setelah ganti si B ternyata tidak cucok itunya, demikian juga setelah berganti C dan D...
Lain lagi dengan cerita tetangga, gonta-ganti pembantu rumah tangga nggak ada yang cucok sempura (pembantu rumah tangga yang sempurna? halah...kayak apa itu?)
Belum kisah teman sekerja, yang suka jadi kutu loncat, pindah kerja sini dan sana, selalu mengincar posisi baru dan setelahnya kecewa karena tidak sesuai dugaannya semula...
Pada intinya, muasal dari kisah di atas adalah karena kita merasa lebih, merasa mampu, merasa bisa sendiri, sehingga menuntut orang lain, entah pasangan, pimpinan, bawahan, untuk bisa cucok dengan kita....juga menganggap diri bagai burung bersayap komplit! yang mampu terbang sendiri tanpa bantuan yang lain...suatu hal yang tidak mungkin!...
Karena.....
Karena kenyataanya, kita semua hanyalah burung dengan sebelah sayap saja. Bisa terbang, kalau berpelukan erat dengan burung lain, yang sama-sama punya sebelah sayap. Tak ada pimpinan sempurna, tak ada pasangan tanpa cacat, tak ada pekerjaan tanpa suka duka...
Untuk kuat, semua perlu berpelukan...bahkan seorang Nelson Mandela, konon memerlukan berpelukan dengan orang yang dulu pernah menyiksanya, semua demi bangsa...
Berpelukan makin berkualitas, kalau dibarengi dengan cinta....
Karena dengan cinta...kegagalan bisa diubah menjadi keberhasilan, yang ruwet bisa berganti indah dan menyenangkan....
Kesombongan, merasa diri sempurna hanya membuat nasib kita menjadi burung bersayap sebelah yang memaksa diri terbang di angkasa....hanya menunggu saat jatuh terpuruk saja!
Ajakan indah: mari mulai kehidupan dengan pelukan!
Memeluk Tuhan, memeluk suami, memeluk istri, memeluk anak, memeluk alam, "memeluk" partner kerja (ada tanda petiknya lho!).....sebagai tanda kesadaran dan pengakuan bahwa kita memerlukan sebelah sayap lagi....
(demikian pencerahan yang saya peroleh dari Gede Parma)
Hari ini, sebelah sayap saya ultah....
Singkat padat ucapan selamat dan doa saya untuk sebelah sayap itu:
sing penting sehat, tenang...
dan kita bisa menunggui dan menemani anak-anak..
sampai mereka mandiri,
amiin"
lanjut baca?
Sabtu, Oktober 10, 2009
kepingin lali?
Sms Ayik, sohib gemblung saya: "aku kepingin lali tanggal.."
Ah, ini akal-akalan Ayik saja, saya tahu maksudnya, dia mengingatkan saya....
Jawab saya: "oh, tanggal sepuluh kamu ultah ya.."
Ayik: "kamu mau ngado apa?"
Saya: "Ngado posting!"
Ayik: "huahaha...tahu aja kamu" (kado posting, apaan itu? kata hatinya, tapi saya cuek bebek saja hehe-persahabatan yang aneh...)
Hanya, ada sedikit yang menggelitik saya, kenapa dia pingin lali? pingin melupakan hari ulang tahunnya? Apakah dia tidak ingin menjadi tua? (weleh, yen kuwi sih akeh tunggale Yik...Yik...pertanyaannya: mungkinkah?)
Ayik dan saya telah bersohib lebih dari dua dekade. Jarak, problema hidup masing-masing, tak melekangkan kekancan ini, meski sebenarnya Ayik dan saya dua kepribadian yang berbeda...
Dagelan fb, antara Ayik dan saya...
Ayik itu, kalau anda partner fb-nya, konon adalah penceria dunia maya! Banyak kawan begitu setia dan sering mengunjungi, berharap membaca status barunya, yang kabarnya selalu lucu, ceria, bernas, penuh filosofi, smart, ramah, tamah, gemblung dan begitu menghibur.... Dia begitu menikmati dan bahagia dengan dunia fb.
Sebetulnya, diapun ingin melibatkan saya dalam kebahagiannya itu. Teramat sering dia memotivasi dan memaksa:
"Ayo Nut, apdet dong status fbmu!"
"Fb? apaan sih itu?" jawab saya dan dia dengan sabar akhirnya menerangkan secara teknis dan teoritis tentang fb kepada saya :)
Hari-hari berlalu dan dia bertanya lagi...
"Piye fb-mu, kok belum ada kemajuan?"
Saya menjawab: "Fb? apaan sih itu?"...sekali ini dia menjadi sebal dan tak menjawab...hehe...
Lain kesempatan, untuk pertanyaan yang sama, jawaban saya ke Ayik:
"Aku ndak bisa fb-an, aku ndak punya hp blekberi..." saya kirim sms ini sambil senyum-senyum sendiri, karena saya sebetulnya tahu dia getol apdet status fb-nya cukup melalui hp-yang yang zadoel banget hehe...
Dia tak berkomentar, kekesalannya sepertinya telah memuncak!
Happy birthday Yik!
Meski harimu selalu kau ceriakan...
Tapi kutahu dari puisimu,..
Ada sisi luka di hati itu...
Satu yang perlu kita ingat selalu..
Hidup adalah aliran sungai,
Mengalir, perpindah, berubah...
Kalau motif kita
Mengharap keadaan yang sempurna,
mencari orang terdekat yang tanpa cacat...
sebaiknya, lupakan saja!
Karena itu tak mungkin, tak bisa!
(apalagi yang pingin lali, pingin terus muda hehe..)
Yang mungkin dan yang bisa:
menerima kekurangan dan perbedaan
dan mentransformasikannya
sebagai kekayaan....
(sulit...)
Again, happy tuwir!
lanjut baca?
Kamis, Oktober 08, 2009
memeluk lambang cinta...
Kemarin sore, suami saya berbagi tentang ilmu yang dia peroleh saat mengikuti pelatihan. Ilmu sederhana tapi dalam bermakna, yang ditularkan oleh Gede Parma, yaitu: untuk bahagia, kita perlu pandai mencari lambang-lambang cinta, untuk kita peluk. Surprisingly, lambang itu bukan berupa rumah magrong, kendaraan merci, ataupun tabungan dolar....bukan, bukan itu (kalau itu, betapa sedikit yang merasa bisa memeluk cinta!) tapi...cobalah dicari..cobalah dicari....
Pagi hari tadi, kelar sholat subuh, saya inspeksi ke halaman susuh....saya mengamati pohon pare saya, oh ternyata sudah cukup banyak yang menanti untuk dipanen! Saya ambil gunting dan kursi...dan saya memetik panenan ini dengan tersenyum! Saya mencintai kegiatan ini. Saya bahagia melakukannya! Aha, saya menemukan cinta dalam sekeranjang pare!
Turun dari kursi, mata tertumbuk pada gerumbulan daun kemangi....segarnya memetik barang dua jumput, untuk lalap, peneman empal goreng nanti sore... Again, saya menemukan lambang cinta pada dua jumput daun kemangi....
Dan....kagetnya, lambang-lambang cinta itu, ternyata tidak hanya dua, tapi beraneka warna, dan semuanya berada dalam jangkauan pelukan saya, teramat dekat, saya hanya perlu untuk menyadarinya saja...Kemana saja saya selama ini?
Apa sajakah itu? Apa sajakah itu?
Ini, setandan pisang kepok yang baru saja kami turunkan dari pohonnya, tidak semua punya lambang cinta jenis ini!
Kemudian ini, terung hijau, meski baru satu senti, tapi dia tidak berhenti, besuk memanjang dan memanjang....pernah panen terung, sob?
Kesukaan ibunda saya, belimping pilipina. Daging buahnya padat, rasanya manis. Sebentar lagi menguning, matang....
Jambu....
Pare...., meski sudah saya panen sekeranjang pagi tadi, tetapi buah lain yang pating grandul masih banyak, besuk hari panen lagi, untuk dibagi ke tetangga....
Ini tanaman timun....baru pada tahap mengeraskan batangnya..tetapi sulurnya agresif terus mencari rambatan, mengajak si batang segera memanjang...sebentar lagi timun tak usah beli....
Betapa indah hidup, andai mampu menangkap lambang cinta yang pasti ada di sekitar kita....
lanjut baca?
Jumat, Oktober 02, 2009
Masih Capek!
Thanks God It's Friday! Saya sangat mengincar wiken besuk ini. Persoalannya, balik dari mudik sudah hampir seminggu yang lalu, tetapi karena aktivitas mudik yang padat, perjalanan arus balik yang cukup menguras tenaga, plus setelah sampai susuh Jakarta langsung dihadang oleh rutinitas kerja yang kembali full, maka....badan ini rasanya masih meriang, masih lungkrah, tukang pijet masih di kampung, jadinya masih belum sanggup posting yang sedikit bermutu (idih...emang sebelum meriang postingnya bermutu apa?), masih belum bisa banyak blogwalking, masih belum mampu komen ke blog temen-temen....
Oleh karenanya, wiken besuk ini..saya akan pakai untuk istot alias istirohat total, kaluk perlu tidur tak bangun-bangun 2X24 jam! hehe...
Sambil menunggu wiken yang beberapa jam lagi datang, waktu dan kesempatan saya buat untuk mengenang kejadian-kejadian aeng selama mudik saja..(halah, crita tentang mudik lagi...mudik lagi...).
Ngiri nie.....
Antrian suka panjang di SPBU menjelang mudik. Sambil isi bensin, suami yang memang pembawaannya ramah tamah (suit..suit!) terlibat obrolan dengan petugas Pom bensin:
"Mudik nih, Om?.." tanya petugas sambil melirik bawaan kami: bantal, kemul, aneka logistik...
Si Om: "Iya dong...sampeyan sendiri?"
Petugas: "Saya tidak punya kampung Om, saya asli Klender! dari Pom bensin ini hanya sonoan dikit..." Petugas itu menjawab dengan wajah tampak susah, kayaknya dia pingin banget punya kampung....Ada semburat ke-ngiri-an di raut wajahnya...
Si Om: "Udah nggak papa nggak punya kampung...saya malah jadi bisa nitip ke sampeyan!"
Petugas: "Nitip apaan Om?"
Si Om: "Nitip Monas, jagain ya selama saya mudik...daaagghh!"
Wajah si petugas makin nelongso...
Untuk Blog ya?
Saat melintasi Boyolali (dikit lagi sampai Solo), kami tertarik berhenti sebentar untuk membeli pepaya sebagai oleh-oleh Mbahkung dan juga memilih-milih labu parang. Seperti biasa, sambil tawar menawar saya nyambi memotret labu yang ukurannya jumbo-jumbo itu...menggemaskan.
Si penjual dengan sabar menanti saya menyelesaikan hobi jepret-jepret ini, sambil komentar..."Bu, buat dimasukin di blog ya?"
Waduh!, saya kaget campur malu lho ditodong pertanyaan seperti itu, mana semua itu benar adanya...wah tak nyangka, si abang yang tampilan dan jualannya sederhana ini rupanya melek blogsphere...
"Iya..hehe..betul..hehe..." jawab saya serasa ketangkap basah!
Ngerjain Ledek!
Saat kami sekeluarga menikmati sarapan kuliner khas Solo, di suatu lesehan di Manahan, seperti biasa selalu ada pengamen yang mendekat dan beraksi untuk kemudian mengharap rizki. Suami yang usil (weleh, tadi katanya ramah tamah?) ngegoda si embak ledek...
Suami: "Mbak..sanese..." (Mbak, ngamennya ke tempat lain dulu ya...)
Ledek: "Sanese ampun...." (yang lain tadi udah..)
Suami: "Wah, ora duwe duit cilik, sekul purun?" (wah..nggak ada uang kecil, nasi mau?)
(hehe..hehe..yang menganggap percakapan ini tidak lucu ya sudah..., tapi kami sekeluarga terpingkal-pingkal lho...-keluarga yang aneh...)

lanjut baca?
Kamis, September 24, 2009
Mudik: a half story....
Saat ini saya sudah berada di Jakarta, tetapi saya sebetulnya belum benar-benar bergabung di arus balik lho...saya masih dalam posisi mudik, hanya memang sudah balik! (aduh...bingung to?).
Memang begitulah Plan A mudik saya. Mudik saya baru separo...it's only a half story...
Khusus di postingan ini, saya pingin merekam dengan singkat perjalanan mudik tahun ini yang saya rasa paling unik dibanding mudik-mudik saya sebelumnya...(rekaman detail saya simpan dalam album saya saja...)
Selama saya dan suami berada di Indonesia (halah, emang pernah dimana siiih...di Kutub Utara ya?), hanya satu kali kami melewatkan Hari Raya Iedul Fitri di Jakarta, yaitu tahun 2003, itu karena Bapak dan Ibu saya sedang di Jakarta. Bapak sakit dan perlu dirawat di Jakarta, sampai kemudian beliau dipanggil-Nya seminggu setelah lebaran...sedihnya.....bener-bener lebaran kelabu.
Selebihnya, lebaran artinya: mudiiikk!!
Mudik bagi saya bukan sekedar tradisi. Saya memaknai mudik dengan filosofi yang tinggi. Mudik gambaran bakti, kasih sayang, kehangatan, silaturahim, permohonan maaf dan kerendahan hati seorang anak. Mudik tidak identik sekedar perjalanan menuju ke Solo, namun mudik adalah untuk sowan dan sungkem.
Tentu setiap ada kesempatan, sowan ibu saya lakukan. Tapi sungkem khusus di hari Lebaran, jangan sampai terlewatkan. Saya suka merinding mendengar pengalamam teman-teman yang kemudian kehilangan gairah pulang kampung setelah orangtua dipanggil menghadap-Nya. Mudik memang bukan sekedar pulang kampung, mudik adalah untuk ibu!
Oleh karenanya, saya sungguh menikmati kilometer demi kilometer yang kami lalui untuk bertemu ibu...menghadapi macet? siap! Ternyata lancar? alhamdulillah....
Mudik paling nyantai...
Tahun ini, mudik saya unik. Berangkat dari Jakarta hari Kamis malam, sampai Solo hari Sabtu siang. Horok, lama amir? Apakah terjebak macet luar biasa? Tidak, lalu lintas lancar-lancar saja. Ceritanya, dalam perjalanan ke Solo kami memang ingin bermalam di Bandung terlebih dahulu. Jum'at subuh selesai sahur dan sholat subuh di Grand Serela Bandung , kami memulai perjalanan dengan mengambil rute Jatinangor ke arah utara, tembusnya Tol Kanci Cirebon. Perjalanan lancar, semua tetap berpuasa. Sore harinya sudah masuk Semarang. Solo sudah dekat. tetapi karena suami ada undangan mendadak yang harus dihadiri di Semarang, maka kami memutuskan untuk menginap di Semarang, di Hotel Ciputra, Simpang Lima (acara nginep di Semarang ini memang sedikit melenceng dari Plan A). Malam hari hujan deras disertai angin kencang menerpa Semarang, tetapi kami sudah berhangat-hangat di kamar hotel dan kami tidak merasa terkungkung karena untuk mencari camilan sangat gampang, Hotel Ciputra ini menyatu dengan mall :)
Subuh berikutnya, seperti biasa, setelah sahur dan solat subuh di hotel, kami melanjutkan perjalanan ke Solo yang tinggal dua jam-an ini...Sabtu pagi setengah siang sampailah kami semua ke Solo dengan selamat dan sentosa...
Sholat Ied di lapangan Kottabarat cukup meriah. Yang penting sebagian besar umat Islam di Indonesia melaksanakan sholat Ied di hari yang sama...
Selesai sholat Ied, sebelum ibu kedatangan banyak tamu yaitu para tetangga sekitar, kami duluan sungkem ibu. Acara sungkem diawali dari anak yang paling tuwir (saya dan suami dong..), dilanjut adik-adik. Acara sungkem selalu disertai isak haru kami...apalagi beberapa tahun ini kami tidak bisa lagi sungkem ke Bapak...
Setelah sungkem selesai, segera kami hapus airmata dan bedakan lagi...ritual berikut dimulai, yaitu foto bareng. Lucunya, dari tahun ke tahun tempatnya di situ-situ saja, yaitu di ruang tamu dan dilanjut di teras...yang beda hanya baju-baju kami dan wajah-wajah kami yang perlahan-lahan pada menua hehe...(ngenes)
Foto bareng juga menjadi agenda wajib di rumah mertua...hanya bedanya keluarga saya relatif keluarga kecil, sedangkan keluarga suami...wah...sak umbruk! terlihat perbedaannya di foto khan? Keluarga suami yang sudah banyak itu sebetulnya belum komplit lho, karena kakak yang tinggal di Kendari tahun ini tidak bisa mudik.....
hanya pada hari lebaran kami bisa kumpul sebanyak ini...
Mahalnya kedisiplinan...
Seperti yang saya sudah pernah cerita, karena hari Kamis dan Jum'at pasca lebaran kami harus masuk kerja padahal belum puas mudiknya, maka pada hari Rabu sore saya dan suami kembali ke Jakarta dulu agar bisa masuk kerja hari ini dan besuk....Sabtu pagi kami balik ke Solo untuk menjemput anak-anak kembali Jakarta, itulah nantinya yang menjadi the real arus balik saya...doain lancar ya....
Gara-gara cuti bersama yang cekak ini, tenaga ektra harus dikeluarkan dan tiket ekstra harus diusahakan...but well, hidup memang perlu kedisiplinan...dan hidup juga perlu..mudik! so....
lanjut baca?
Senin, September 14, 2009
Mudik: Plan A.

Beberapa minggu terakhir ini kegiatan saya mbolak-mbalik lembaran almanak...mencari hari baik untuk mudik. Akhirnya ketemu: sebaiknya mudik sebelum lebaran dan kembali ke Jakarta lagi setelah lebaran! Halah...
Hanya saja, pelaksanaan mudik tahun ini bakalan agak pelik. Apa pasal? Sebagai buruh, saya terikat sumpah jabatan untuk tidak mbolos kerja dengan semena-mena. Menurut Keputusan Bersama Menag, Menakertrans dan Menpan tahun 2009 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama,.... cuti bersama Idul Fitri 2009 hanya dua hari yaitu tanggal 18 September dan 23 September 2009. Kamis-Jum'at yang sangat menggiurkan (tanggal 24 dan 25 September) itu harus masuk! Olala...
Total jendral, hanya ada waktu enam hari untuk mudik komplit dengan agenda silaturahim kemana-kemananya!....(padahal anak-anak sebetulnya liburnya masih panjang..)
Apa akal nih?
Keinginan kuat untuk mudik, dipadu kemauan untuk tetap menegakkan disiplin kerja, maka menghasilkan rencana mudik sebagai berikut:
1. Bergabung dengan arus mudik pada hari Kamis malam, tanggal 17 September 2009.
2. Bermalam di Bandung untuk mengumpulkan tenaga.
3. Jum'at subuh mulai bertolak dari bandung ke Solo. Insya Allah sampai Solo pada malam hari. Siap lebaran!!
4. Rabu tanggal 23 September, khusus saya dan suami kembali ke Jakarta, anak-anak tetap di Solo.
5. Kamis dan Jum'at saya dan suami masuk kerja (aarrgghh..).
6. Sabtunya, saya dan suami kembali ke Solo.
7. Minggunya, saya, anak, bojo kembali ke Jakarta...
Itulah Plan A mudik saya. Sedangkan Plan B? Tidak punya :(
Bagaimana denganmu, sob?
lanjut baca?
Kamis, September 10, 2009
sweat small stuff?
Tak pikir-pikir...(bukan tak gendong-gendong..), manusia itu (maksudnya saya) tanpa disadari kadang (atau sering) bersikap berlebihan, mendramatisir, berpikir terlalu mikro, njlimet, membesar-besarkan perkara kecil...picik!
Beberapa hari yang lalu, saat dines ke Kepulauan Seribu, saya sengaja bawa kamera, mengharap ada sesuatu unik yang bisa dijepret di sana. Singkat cerita, di tengah keasyikan hunting, seorang teman izin untuk pinjem kamera barang sebentar, rupanya dia tertarik untuk ikut menjepret. Ya sudah, kemudian kamera itu berpindah tangan. Sebetulnya kurun waktu pinjamnya tak lama, tapi saat mengembalikan dia kesulitan mencari tutup lensanya,...dia rogah-rogoh kantung celana...woo ternyata bolong...dan akhirnya disimpulkan lens cap itu ilang!
Sebagai penyayang kamera, saya tentu sedih!, kecewa!, kesal!, mrengut dalam hati!, membiarkan teman saya murung dan tidak enak hati. Kemudian saya mengabarkan ke suami, ke sohib gemblung Ayik, juga ke guru fotografi saya "Wah mas, brita buruk!, tutup lensaku diilangke teman, piye iki?" kemudian semua saya bikin heboh...pokoknya kelakuan saya lebay deh!
Padahal....
Padahal, toh temen saya itu tidak sengaja, dan dia terlihat begitu menyesal. Tutup lensa bisa di beli lagi, meski harus menunggu hari esok (lensa tanpa tutup bisa dilindungi dulu dengan apa kek...), ini perkara barang cilik, kok ngurusnya kayak ngurus negara aja...
Wah..wah...jadi malu, padahal juga baru beberapa hari lalu saya kirim komen ke bunda saya, bahwa paling enak hidup tidak perlu meributkan hal kecil, don't sweat the small stuff! , saya kutip kata Richard Carlton.
Akhirnya saya dapat tutup untuk lensa 5,2 mm saya itu, dan yang sekali ini saya cari yang pake tali, biar selalu nggandhul di bodi kameranya...
Satu persoalan kecil berlalu...
Persoalan lain muncul....
Barusan saya ada perlu mengeluarkan sim card kamera saya, trus sekarang saya lupa naruhnya...adduh!! I'm indeed an unorganized creature!
Persoalan lain lagi....
Beberapa minggu ini saya sedang senang-senangnya punya pohon pare di kebon. Tiap pagi sengaja saya luangkan waktu untuk menengok pertumbuhannya. Bergairah sekali rasanya bila selalu menemukan calon buah baru muncul, atau perut buah makin mbeldhug! Saya bercita-cita, saat panen raya nanti, saya akan undang ibu untuk memetik bersama, saya akan hayati betul proses petiknya, saya akan potret dulu aneka posenya...sebelum saya oseng!!
Akan tetapi...
Pulang dari dines di Serang, sampai rumah saya mendapati menu berbuka kok ada oseng parenya. Perasaan hati jadi tidak enak.
"Wak, belanja pare, ya?"
"Mboten bu, itu uwak dapat dari metik di kebon, lumayan..untuk nambahi lauk, uwak petik enam buah saja!".....buusyreet deh.
Tapi saya tidak boleh marah (mau berkurang nilai puasanya?)...ini hanya urusan pare, bung! enam biji itu kaluk di pasar cuma dua ribu lho...
(justru itu waaak....kamu mending ibu beri lima puluh ribu deh untuk beli pare di pasar...tapi jangan klangenan ibu itu kamu petik semaunya tanpa ada proposal terlebih dahuluuu......).
"Lima puluh ribu buat beli pare bu? walah...banyak amat ntar dapetnya!!...." kata uwak serius dan lugu. Oh, my bedinde...!!
Pernah pusingkan hal kecil, sob?
lanjut baca?
